Rasulullah tidak pernah menyelipkan kebohongan saat bergurau, agar orang tertawa, sebagaimana dilakukan banyak orang.
Sungguh,
betapa beruntungnya kita menjadi orang yang terpilih memeluk Islam.
Kita patut bersyukur, melalui agama ini, Allah memilihkan semua hal yang
terbaik yang tak dimiliki agama lain di dunia. Melalui Rasulullah
Muhammad, Allah memberi tuntunan hidup untuk seluruh ummat manusia.
Allah
s.w.t. telah memilih dan mengangkat para Rasul yang diberi wahyu
tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan
hidup yang lurus dan benar. Islam mengatur segala hal, bahkan hal-hal
yang tak pernah dibayangkan manusia. Hatta, masalah kecil dan hal
remeh-temeh. Masalah bersuci, hubungan suami-istri sampai bersiwak
(membersihkan gigi).
Sayangnya, banyak orang
Muslim tak benar-benar menerapkan anjuran Rasullah. Bahkan tak sedikit
kaum Muslim tidak mengerti tata-cara yang dibenarkan dalam Islam untuk
urusan-urusan kehidupan mereka.
Mulakan dari Kanan
Suatu
ketika, tak lama sepeninggal Rasulullah Muhammad, kota Madinah banjir
air mata atas kepergian beliau. Semua ummat Islam kota itu seolah tak
percaya Muhammad telah pergi. Tak beberapa lama, datanglah seorang arab
badui menemui Umar. "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis
mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh
Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan
permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan
apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin
AbiThalib.
Ali dengan linangan air mata berkata,
"Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana
mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini…." Ali
kemudian menjelaskan sambil mengutip QS. Al-Qalam:4,berupa pujian Allah
atas ahlaq Muhammad. "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia
padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah
senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad
, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi
pekerti yang agung.”
Begitulah Rasulullah Muhammad. Apa
yang disukai Muhammad dilaksanakan semua sahabat. Apa yang dibencinya
juga dihindari para sahabatnya.
Rasulullah adalah orang
yang mengajarkan kita memulai segala sesuatu dari sebelah kanan. Beliau
membuka pakaian dengan memulakan sebelah kanan dan menanggalkan dari
sebelah kiri.
Ibunda kaum Mukminin, ‘Aisyah RA, pernah
mengungkapkan, “Sesungguhnya Rasulullah SAW menyenangi mulai bersuci
dari anggota badannya yang sebelah kanan, juga ketika bersisir dan
ketika memakai sandal.”
Cara Berpakaian
“Apabila
Rasulullah memakai pakaian baru, maka disebutkanlah namanya (misalnya
surban atau gamis) lalu beliau berdoa, ‘Ya Allah, hanya bagimu segala
puji, sebagaimana Engkau beri aku pakaian, aku mohon pada-Mu
kebaikannya, dan kebaikan bahan yang dibikin. Dan aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan dan keburukan bahan yang dibikin’.” (Riwayat
Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai)
Kadang Rasulullah
mengenakan kain berwarna merah, hijau, atau kuning, namun beliau lebih
menyukai warna putih. “Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai
sewaktu kalian hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian waktu kalian
mati. Sebab kain putih itu sebaik-baik pakaian bagi kalian.” (Riwayat
Abu Dawud, Ibnu Majah,, Tirmidzi)
Hudzaifah Ibnul Yaman ra
(seorang sahabat Rasulullah yang masuk Islam sebelum perang Badar)
berkata,” Rasulullah memegang otot betisku dan betis kakinya, lalu
bersabda, ‘Inilah tempat batas (bawah) sarung. Jika kau tidak suka di
sini, maka (boleh) diturunkan lagi (sedikit). Jika kau tidak suka juga,
maka tidak ada hak lagi bagi sarung menutup kedua mata kaki.” (Riwayat
Tirmidzi, Ibnu Majah dan an-Nasai)
Cara Makan
Ibnu
Abbas ra mengatakan,” Rasulullah Saw dalam keadaan lapar beberapa malam
berturut-turut, demikian pula keluarganya. Mereka tidak mendapatkan
makanan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan mereka yang paling
sering dimakan adalah roti yang terbuat dari Sya’ir (bahan gandum yang
paling rendahmutunya) . (Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Abu
Ayub al-Anshari ra bercerita,” Pada suatu hari, kami berada di rumah
Rasulullah Saw, maka beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak
mengetahui makanan mana yang paling banyak berkahnya pada saat kami
mulai makan atau di bagian yang paling akhir.” Abu Ayub kemudian
bertanya,” Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi?
Rasulullah Saw bersabda,” Sesungguhnya kami membaca nama Allah jika akan
makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa menyebut nama
Allah, maka makanannya disertai setan.”(Diriwaytkan oleh Qutaibah dari
Ibnu Luhai’ah dari Yasid bin Habib dari Rasyad bin Jandal dari Hubeib
bin Aus yang bersumber dari Abu Ayub al-Anshari)
Cara Minum
Anas
bin Malik menceritakan,” Sesungguhnya Nabi Saw menarik nafas tiga kali
pada bejana bila beliau minum. Beliau bersabda,’Cara seperti ini lebih
menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.”(Riwayat Muslim, Abu Dawud,
Tirmidzi dan Nasai). Hadis ini menunjukkan bahwa minum dengan sekali
habis tidak baik.
Cara Bicara
‘Aisyah
RA mengabarkan,” Rasulullah Saw tidak berbicara cepat sebagaimana
kalian. Tetapi beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas.
Orang yang duduk bersamanya dapat menghafal kata-katanya.” (Riwayat
Bukhari dan Muslim)
Anas bin Malik berkata, “Rasulullah
Saw suka mengulang kata-kata yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar
dapat dipahami.” (Riwayat Bukhari dan Tirmidzi)
Gurau dan Syair
Baik
gurau maupun ungkapan syair yang disampaikan Rasulullah Saw adalah
berisi kebenaran. Rasulullah tidak pernah menyelipkan kebohongan saat
bergurau, agar orang tertawa, sebagaimana dilakukan banyak orang.
Abu
Hurairah ra berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Wahai
Rasulullah, Apakah engkau suka bergurau kepada kami?’ Beliau
bersabda,’Ya. Tapi apa yang kukatakan (saat bergurau) tidak lain hanya
kebenaran.” (Riwayat Tirmidzi) .
Jundub bin Sufyan
al-Bajali RA mengabarkan,”Jari jemari Rasulullah Saw tertimpa batu dan
berdarah, maka beliau pun bersabda(bersyair) , ‘Engkau hanyalah jari
jemari….kau berdarah. Dan kau mengalaminya di jalan Allah.”(Riwayat
Bukhari-Muslim)
Cara membaca Al-Qur’an
Qatadah
berkata,”Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra, ‘Bagaimanakah bacaan
(Al-Qur’an) Rasulullah SAW?’ Ia menjawab, ‘Bermad (bertajwid)’.”
(Riwayaat Bukhari, Nasai, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Ummu
Salamah bercerita,”Rasulullah SAW memotong bacaannya (pada setiap ayat).
Beginilah cara membacanya, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin’, kemudian
beliau berhenti. Selanjutnya dibaca, ‘Arrahmanirrahim,’ kemudian beliau
berhenti. Selanjutnya dibaca, ‘Maliki yaumiddin’.” (Riwayat Tirmidzi,
Abu Dawud, Nasai)
Tempat Tidur Rasulullah
Ibunda
kaum Mukminin, ‘Aisyah RA bercerita, ”Sesungguhnya hamparan tempat
tidur (kasur) Rasulullah SAW terbuat dari kulit binatang, sedangkan
isinya terbuat dari serabut kurma.” (Riwayat Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud
dan Ibnu Majah)
Baik kepada Pekerja
Anas
bin Malik ra bercerita,” Aku menjadi pembantu Rasulullah SAW selama
sepuluh tahun. (Selama itu) beliau tidak pernah mengatakan, ‘Uf!’ (hus).
Dan tidak pernah pula beliau menggugatku karena sesuatu yang aku
kerjakan (dengan perkataan), ‘Mengapa kau kerjakan begini?!’ Dan tidak
pula (menggugat) karena ada sesuatu yang tidak kukerjakan (dengan
perkataan), ‘Mengapa tidak kau kerjakan?!”(Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi)
*
Demikian segelintir dari sekian banyak akhlak mulia beliau yang patut kita contoh. [atw/cha/hidayatullah.com]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar